Menyenangkan isteri merupakan ibadah

Green Daya Makassar 4 Mei 2019, mengantar isteri tercinta ke lokasi pengabdian masyarakat…..

Iklan

Pengguna narkoba melaporkan diri, tidak dipidana melainkan direhabilitasi

MAKASSAR, 28 April 2019 — Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulsel terus mengajak para pengguna narkotika agar mengikuti program rehabilitasi. Daftarkan diri secara sukarela, pengguna yg melaporkan diri tidak dituntut pidana dan gratis.

Program Rehabilitasi merupakan cara untuk memulihkan pengguna agar terbebas dari narkoba dan bisa kembali produktif. Meski memerlukan waktu yang tidak sebentar, namun proses ini dianggap penting dan sangat efektif.

Kepala Bidang Rehabilitasi BNN Sulsel, Sudarianto mengungkapkan, penyalah guna atau pecandu narkoba itu kriminal, namun dijamin oleh UU untuk direhabilitasi.

“Pengguna Narkoba yang menjalani rehabilitasi tidak dituntut pidana seperti tercantum pada UU 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Baik yang sudah cukup umur, maupun yang belum cukup umur,” ungkapnya.

Pria kelahiran Bone, 10 Mei 1968 ini menambahkan, setiap orang memiliki waktu yang berbeda dalam menjalani rehabilitasi, tergantung tingkat keparahan. Biasanya memakan waktu dua hingga sembilan bulan, sebab perlu perawatan fisik dan mental.

“Untuk fisik, waktu rehabilitasi dipengaruhi dari jenis narkoba yang digunakan. Sedangkan untuk perawatan mental, waktunya agak lama karena keinginan menggunakan narkoba juga bisa muncul sewaktu-waktu,” tambahnya.

Olehnya, ada beberapa alur jika ingin mendaftarkan diri untuk direhabilitasi. Bisa secara langsung maupun online yang diakses lewat rehabilitasi.bnn.go.id/public/user/register. Kemudian, menyerahkan berkas seperti KTP dan KK.

Setelahnya, akan dilakukan pemeriksaan yaitu screening dan asesmen medis untuk menyusun rencana terapi. Selanjutnya, intervensi singkat rehabilitasi rawat jalan, atau rehabilitasi medis rawat inap, maupun rehabilitasi sosial rawat inap.
Beberapa tempat rehabilitasi yg gratis selain BNN, antara lain seluruh Puskesmas di Kota Makassar, dan seluruh RS Umum Daerah di Sulawesi Selatan serta beberapa tempat rehabilitasi swasta yg bermitra dengan BNN.

Terus bersepeda supaya sehat

Makassar (27 April 2019), setiap hari Sabtu dan Ahad saya rutin melakukan aktifitas olah raga sepeda. Rute hari ini dari rumah Jl. Wijaya Kusuma I, ke Vetetan Selatan, Monginsidi, Rusa, Lanto dg Pasewang, Ratulangi, Kakatua, Cenderawasih, Dangko, Abdul Kadir, masuk Benteng Sombaopu (sekaligus ngintip anak sibungsu berkemah). Berputar dalam Benteng Sombaopu olahraga sambil menikmati wisata budaya.

Pulangnya melewati Abdulkadir, Jl. Kumala, Vetetan Selatan masuk Banta2eng, finish di rumah.

Memilih olah raga rutin dengan bersepeda karena selain sepeda sebagai alat untuk rekreasi, bersepeda membuat tubuh bergerak aktif. Sebagaimana kita tahu, tubuh yang aktif adalah salah satu syarat penting untuk menjaga kualitas kesehatan kita.

Lakukan aktifitas rutin, tetatur dan terukur supaya senantiasa sehat.

Reuni kelompok terbang 24 KBIH KODAM

Akhir-akhir ini reuni menjadi trend baru, kalau semula hanya ada reuni teman-teman SMA/SMU atau lulusan suatu perguruan tinggi atau mantan karyawan suatu perusahaan berskala nasional, kini sudah merebak hingga reuni teman-teman SMP dan SD. Bahkan adalagi reuni teman kelompok terbang jamaah haji, yaitu reuni dengan kloter 34 KBIH KODAM.
Kami bertemu kembali setelah dua tahun lalu kami bersama terbang, bersama di hotel, bersama naik bis, bersama masuk masjid, bersama tawaf, bersama sa’i, bersama wukuf, dan yg paling sering yaitu bersama makan.
Peryemuan itu di Rumah Kebun Bili2 Kab. Gowa pada tanggal 21 April 2019. Kami bersalaman, bercanda, saling mengingatkan peristiwa ketika beribadah.
Semoga persaudaraan ini terjalin selamanya.

Sepeda sehat supaya enak makan dan enak …

Makassar (2 Maret 2019), setiap hari Sabtu saya rutin melakukan aktifitas olah raga sepeda dari rumah Jl. Wijaya Kusuma I, ke Jl. Rappocini Raya, Jl. Pangeran Pettarani.

Memilih olah raga rutin dengan bersepeda karena selain sepeda sebagai alat untuk rekreasi, bersepeda membuat tubuh bergerak aktif. Sebagaimana kita tahu, tubuh yang aktif adalah salah satu syarat penting untuk menjaga kualitas kesehatan kita.

Sesampai di Taman Pakui Sayang, kami parkir sepeda pada tempat parkir yg sudah disiapkan, kemudian ikut senam sehat. Setelah lelah, aktifitas kami variasi dengan jogging mengikuti rombongan komandan 5YL.

Kemudian, dilanjut brrsepeda dari Taman Pakui Sayang menelusuri Jl. Pangeran Pettarani, belok ke Jl. S. Saddang, Jl. Pelita Raya, masuk ke lorong-lorong tembus ke Jl. Rappocini Raya, masuk ke Lr. 6 menuju Jl. Wijaya Kusuma I tempat saya dan keluarga berdomisili.

Lakukan aktifitas rutin, tetatur dan terukur supaya enak makan dan enak …

Yogya, saya datang tiga hari… terus pergi lagi

Jogja adalah satu kata yang memberikan getaran berdenyut di dada ketika mendengarkannya. Ia tumbuh dan mengakar ke dalam nurani sanubariku. Ia memang hanya sebuah kota. Tapi asal kamu tahu, Jogja adalah sebuah kehidupan penuh drama, romantika, penuh kenangan. Padahal, saya bukan orang Jogya, melainkan orang bugis yg menuntut ilmu di UGM tahun 2006 sd 2008. Tetapi, Jogya selalu ngangenin.

Siapapun yang pernah ke Jogja dan berdiam untuk beberapa lama, rindu adalah sebuah nyeri yang selalu datang ketika kata Jogja terdengar di telinga. Tidak. Sungguh, ini tidak berlebihan. Ada banyak rasa yang tercipta kala di Jogja.

Teringat senyum orang Jogja yang meneduhkan. Keramahtamahan enggan hilang meski metropolitan kian membentang. Kehadiran saya dulu di Jogya dilengkapi dengan beragam festival gratisan, mulai FKY, Pasar Kangen, sunmor, makanan murah, setiap sabtu dan ahad keliling kota Jogya, pegel2 banyak pijat kakiku, dan lainnya… pokoknya banyak yg dikangenin.

Satu hal yang bikin Jogja selalu terkenang adalah karena kesederhanaannya, kebersahajaannya. Prinsip hidup di sini, “nrimo ing pandum,” menerima rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Nggak rakus maupun kemaruk. Materi dan hal-hal duniawi bukan prioritas utama. Warga Jogja mencari ketentraman, keberkahan dan kebahagiaan. Dan definisi filosofis itu terejawantah dalam sebentuk gerobak angkringan.

Ada cinta di setiap bungkus nasi kucing angkringan. Ada kerinduan dalam Kopi Joss Lek Man yang membuat kita selalu nyaman berlesehan. Ada rasa kemanisan dalam gudeg Wijilan. Tak lelah menyambangi Sate klatak di Bantul sana, atau Bakmi Jowo Mbah Moh di Bantul, yang lokasinya kok ya selalu blusukan. Pokoknya itu semua rutinitas yang sederhana namun tak terlupakan. Angkringan menyadarkan aku bahwa tak ada jurang kesenjangan antar manusia.

Sehingga suatu waktu yg bertepatan dengan undangan pesta pernikahan kawan se kantor di Wates Kulon Progo, maka terciptalah lepas kangen bisa ke *Yogya, aku datang tiga hari, terus pergi lagi*.

Kami bersama rombongan beberapa kel. BNNP Sulsel sebanyak 29 orang tiba di bandara Adi Sucipto 15-2-2019 kira2 jam 17.00 sore, dijemput bis yg difasilitasi oleh Ka BNNP Sulsel menuju Hotel Rich di Sleman menyimpan tas, kemudian melanjutkan makan malam di Rumah Makan Gudeng Yu Jum di Wijilan. Dasar lidah coto yg senangnya kecut pedis, rombongan kami 95% belum menyukai gudeg.

Setelah itu, berjalan cukup melelahkan ke arah selatan untuk masuk alun2 selatan Keraton Yogyakarta. Kelelahan terobati dengan uji nyali melewati antara dua pohon beringin dengan mata tertutup kain hitam (rombongan kami tdk ada yg bisa lolos dgn terheran2 karena merasa tidak pernah merasa belok, kenapa bisa belok ?).

Sebagian kawan yg tdk puas bermain waktu kecil, mereka naik kereta roda yg berhiaskan lampu pernak pernik berkeliling mengitari alun2. Kemudian pulang ke hotel untuk istirahat.

Keesokan harinya, Sabtu 16-2-2019 rombongan kami berwisata ke candi Borobudur. Saya sesungguhnya sdh bosan berkunjung ke Borobudur karena sdh sering ke situ, tetapi rasa kebersamaan tim, sy memandu mereka ke sana dan ikut merasakan terik nya matahari walaupun ditutupi dengan payung.

Pulang dari Borobudur, singgah makan di RM Jejamuran (ref Gusti Rahayu dkk). Saya belum pernah ke situ, karena waktu sekolah dulu, belum kenal/ belum ada tempat ini. Kesannya, 99% menyukai jejamuran.

Setelah itu, lanjut dan bis parkir di sekitaran titik nol Jogya (depan BI). Kemudian sy memandu rombongan menuju pasar Bringharjo … walaupun hujan rintik2 membasahi kami, berusaha lari2 kecil akhir nya keringat pun bercucuran di tengah hujan rintik2 di Jl. Malioboro.

Sambil menunggu rombongan berbelanja di pasar Bringharjo, saya masuk di toko Hamzah untuk mendinginkan badan pada suhu AC toko Hamzah. Tiba2 hp saya berdering, ter nyata teman saya dr. Peni (Kabid Rehab BNNP Yogya) sudi menemui saya dan menawarkan apa2 yg bisa dibantu ke rombongan kami. Mau ngajak jalan2, tapi sayang karena saya tidak tega meninggalkan rombongan. Saya ingin menemani mereka menikmati sebagian Kota Yogya yg bisa dijangkau, karena waktu terbatas. Kami memanfaatkan suhu di toko Hamzah sambil bercerita dan foto dengan kawan ini, dan akhir nya beliu pamit… sampai jumpa dok, salam buat keluarga.

Tidak lama kemudian, hp berdering lagi… ternyata Mas Ugik (teman kuliah sewaktu UGM) mau ngajak napak tilas … sebenarnya dengan kawan ini, bisa lepas kangen dengan segala lekuk2 Jogya, tetapi sayang karena saya tidak mungkin meninggalkan rombongan ini. Apa kata mereka nanti. Sambil nunggu kumpulnya rombongan, saya naik mobil Mas Ugik, sambil pelan2 bercerita sampil berputar mengelilingi seputaran titik nol Jogya, terus saya mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf. Sampai jumpa Mas Ugik, salam buat keluarga.

Rombongan sdh berdatangan dan pada menjinjing tas kreseknya hasil belanjaan di Pasar Bringharjo (mereka riuh cerita tentang harga, ada yg ngeluh karena panas di dalam pasar karena banyak orang, ada yg cerita … bingung mau pilih mana dll). Setelah kumpul semua, kami bergerak untuk makan malam di Bakmi Kadin (sesungguhnya sy tawarkan ke Bakmi Pele, yg raciknya satu-satu, kalau rombongan terima… bisa jadi jam 24.00 baru semuanya selesai makan). Kesannya, kurang lebih 90% menyukai Bakmi Yogya.

Kenyang, lelah, kusut karena pakaian basah2 empuk karena hujan gerimis campur keringat, maka rombongan sepakat pulang hotel mandi dan ganti pakaian, setelah itu acara bebas. Rupanya, setelah saya intip2, 100% rombongan perempuan nyeberang ke mall Jogya (ngerti sajalah).

Saya tidur pulas malam itu. Keesokan harinya… rombongan siap2 tepat waktu karena ada telepon dari Ka BNNP bersama isteri bahwa mau ikut di bis bersama semua rombongan menuju ke Hotel Kings di Wates Kulon Progo untuk menghadiri resepsi pernikahan rekan kantor BNNP Sulsel antara Ismaya dan Musafir. Selamat menempuh hidup baru, insya Allah samawa, amin.

Kira2 jam 11.30 bergerak meninggalkan acara resepsi menuju toko Bakpia 25 (saya intip mereka, 100% beli oleh2 Bakpia untuk dibawa pulang ke Makassar). Terus ke bandara Adi Sucipto (tidak jadi ke Candi Prambanan karena khawatir ketinggalan pesawat).

Yogya, saya datang tiga hari terus… pergi lagi.

Mengungsi selama 24 Jam di Masjid Perumahan Cahaya Jakarta di Kab Maros karena Perjalanan Terjebak Banjir

Dalam perjalanan mudik dari Donggal menuju Makassar pada Rabu 23 Januari 2019, sempat terganggu mulai di Pangkep dan Maros karena Banjir. Namun di Pangkap, berhasil melintasi banjir di jalan raya setinggi lutut orang dewasa. Tetapi di Kabupaten Maros, harus berhenti karena air di jalan raya setinggi leher orang dewasa di depan Kantor Bupati Maros dan RSU Salewangang Maros.

Kami berhasil keluar dari antrian panjang yg nyaris kendaraan tdk bisa bergerak. Di depan kami ada pembelokan, kami memutuskan belok dan balik arah untuk mencari masjid untuk shalat magrib. Kami ditunjukkan warga sebuah masjid di Perumahan Cahaya Jakarta.

Alhamdulillah, setelah shalat… sy minta izin sama ustaz untuk istirahat di masjid sambil menunggu surutnya banjir. Tapi yg terjadi malam itu, banjir tdk surut, melainkan tambah naik dan bahkan menggenangi jalur mobil yg saya tinggalkan tadi sehingga mobil sederetan sy tadinya semuanya tergenang air. Alhamdulillah, mobil saya selamat dari grnangan banjir di depan masjid.

Malam itu, hujan turun sangat keras disertai dengan angin kencang sehingga membuat suara atap masjid mledukkk… mledekkk… (sepanjang malam). Kami sek. tertidur pulas sampai jam 24.00, tiba2 suara ramai masuk ke masjid yg membuat saya terbangun. Saya bergumam “hmmmm”… ada apa? Mereka mengatakan, saya mengungsi Pak karena rumah kebanjiran setinggi ketiak orang dewasa.

Kami sek. melanjutkan istirahat di masjid sd Rabu, 23 Jan 2019, setelah shalat magrib, sy memutuskan untuk berangkat menuju Makassar, nulut saya berkomat kamit mengucapkan doa untuk dapat keluar dari permasalahan, alhamdulillah berhasil masuk pada deretan antrian mobil2 yg menuju Makassar, sembari berdoa terus menerus, sedikit demi sedikit roda ban berputar, sampailah di depan Kantor Bupati, perasaan menjadi lega karena banjir sdh betul2 surut di jalan raya, perjalanan mulai terurai karena lalu lintas diatur oleh petugas yg berbaju loreng (TNI), terima kasih TNI, setia hingga akhir.

Alhamdulillah, setelah berhasil masuk tol, perasaan lega… dan terus2 lancar sampai tiba2 anak2 di belakang siuman dan mengatakan “lapar”, maka kami singgah makan pallu basa, kemudian lanjut istirqhat di rumah.

Pembuktian Kuasa Allah untuk Manusia Zaman Now di Palu yg Pernah Terjadi pada Zaman Nabi Musa

Setiap Muslim tentu tidak asing dengan kisah Qarun. Dia adalah orang terkaya di dunia yang hidup di zaman Nabi Musa AS.

Sumber sejarah menyebut Qarun merupakan anak dari Yashar, paman Nabi Musa. Dia dianugerahi harta yang berlimpah, tersimpan di banyak gudang yang kunci-kuncinya sangat berat dipikul.

Kisah Qarun ini terabadikan dalam Surat Al Qashash ayat 76-82. Kekayaan itu membuat Qarun sombong.

Suatu hari, Nabi Musa mengingatkan agar Qarun tidak lupa diri dan menyadari hartanya merupakan pemberian Allah SWT.

Qarun juga diminta untuk berbuat baik dan membagikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan. Sayangnya, Qarun tidak mengindahkan nasihat Nabi Musa.

Begitu angkuhnya Qarun, sampai melupakan apa yang dialami umat-umat terdahulu. Allah membinasakan mereka karena sibuk mengumpulkan harta.

Karena kesombongan yang melampaui batas, Allah mengazab Qarun. Gempa bumi dahsyat terjadi, membuat tanah merekah dan menelan Qarun beserta seluruh hartanya hingga lenyap.

Pembuktian kuasa Allah tentang apa yg dikehendakiNya terjadi pada Desember 2018 di Donggala dan Palu yaitu gempa melebihi 200 kali goncangan yg melulu lantakkan bangunan2 mewah, diikuti dengan gulungan tsunami yg menewaskan banyak manusia serta leukifaksi yang menenggelamkan kampung beserta rumah2 dan isinya ke dalam tanah.
Pada tgl 20 Januari 2019, saya menyempatkan menyaksikan bekas gempa, tsunami dan leukifaksi tersebut di Palu dan Donggala.

Gambar ini berada di Petobo, terjadi leukifaksi dengan lumpur muncul dalam dalam tanah yg menimbun bangunan2 dan ada juga pergeseran satu kampung ke Petobo sehingga menyisakan tumpukan gunung dan ronsokan rumah. Tapi ada juga menyisakan perkebunan kelapa yg tadinya lingkungan perumahan.

Sedang gambar ini berada di Balaroa yang kejadiannya tenggelam satu kampung, kemudian tertitip dengan lumpur dan sekarang sudah mengeras (mirip kisah Qarun).

Dan gambar ini, di pantai Talise yg terjadi tsunami yg menewaskan banyak manusia.

Sedang gambar ini berada di anjungan pantai donggala yg cantik tetapi porak poranda karena tsunami.

Dengan kejadian ini, manusia hendaknya introspeksi diri atas perbuatan dosa maksiat yg terjadi di muka bumi ini.

Menelusuri Pantai Barat Sulsel, Sulbar dan Sulteng

Palu, 19 Januari 2019 menikmati cuti untuk mengikuti proses pernikahan kemanakan di Palu (gedung Al Khaerat Palu).

Penelusuran sejak 15 Januari 2019 jam 09.00 meninggalkan rumah di Jl. Wijaya Kusuma I Makassar menuju Maros menelusuri pantai barat Sulsel (Barru, Pare, Pinrang). Singgah makan siang di Pinrang, kemudian dilanjutkan penelusuran menuju Polewali Mandar terus ke Majene dan tiba di Mamuju pada jam 20.00 WITA untuk istirahat di hotel Walet semalam. Pagi2, menyempatkan ke pantai Manakarra Mamuju seperti berikut.

Setelah istirahat semalam di Mamuju, jam 08.00 pagi melanjutkan penelusuran menuju Topoyo sampai Tikke, dan sempatkan foto2 di sebelah kebun kelapa sawit. Weh… di Bambalatutu, kedengaran bau durian yg menyengat sampai ke telinga. Rasanya maknyus, harganya super murah.

Sekitar jam 18.00 WITA, kami memasuki Donggala (kampung kelahiran teman tidurku), makan malam kemudian istirahat. Keesokan harinya, jogging keliling Donggala dan sempatkan ngintip situasi efek gempa dan selfi di pelabuhan.

Mengenang Masa Kecilku

Masa kecilku adalah masa di mana dapat tertawa lepas. Menari-menari, merentangkan tangan, tertawa tanpa beban. Masa kecilku, dipanggil LIHIN (Shoalihin), tetapi menurut cerita orang tua, suatu waktu kakek (Zainuddin Mallibu) yg bertugas sebagai Jaksa di Semarang pulang kampung dan berkunjung ke rumah orang tua. Waktu itu anak nya bernama HARYANTO (dipanggil ANTO). Beliau bertanya : siapa nama anakmu ini ? cerita orang tua, katanya saya spontan menjawab ANTO (saya tidak ingat, tapi kata orang karena mendengar anak kakek itu selalu dipanggil2 Anto, tiba2 saya juga spontan mengaku nama ANTO). Kakek itu menyatakan OK, satu ANTO JAWA, SATUNYA ANTO UJUNG. Sampai pada saat mendaftar sekolah dengan nama Sudaryanto dengan panggilan Anto.

Bicara soal masa kecil kita pasti memiliki cerita sendiri-sendiri, tapi yang pasti masa kecil adalah masa di mana kita dapat bermain sesuka kita, tak memiliki beban berarti.

Masa kecilku adalah masa dimana aku, kamu, kita semua tak mengenal malu. Masa dimana kita menjadi makhluk mungil, polos yang tak banyak tahu. Kejujuran identik denggan anak-anak, dengan masa kecil. Karena memang begitulah anak-anak, begitulah anak kecil. Anak kecil makhluk polos yang berkata apa adanya. Ketika kecil hari-hari hanya di isi dengan: tidur, bangun tidur, sarapan, sekolah, pulang sekolah, main, mandi, lalu belajar saat malam. Yang ada dalam benak kala itu hanya belajar, dan bermain. Betapa aku rindu masa itu, andai waktu bisa diputar.

Tak lupa kala sore tiba adalah saat di mana pergi mengaji bersama teman-teman, saling sampar-menyampar satu sama lainnya. Lalu pergi bersama menuju rumah sang guru ngaji. Tahu tidak jaraknya, kurang lebih 1 km dari tempat tinggal ku yg waktu itu belum ada lampu jalan, tetapi jalanan kami terangi dengan lampu bambu kami pegangi masing2.

Sungguh, aku rindu. Rindu saat di mana aku dapat tertawa lepas, tanpa beban. Rindu saat di mana aku dapat dengan tenangnya menyantap makanan. Rindu saat di mana aku dapat bermain sepuas hati, tanpa terbebani.

Aku rindu. Rindu masa di mana tak kenal kata privasi. Rindu masa di mana tak kenal beban. Rindu masa di mana tak kenal gengsi. Rindu masa di mana bermain adalah rutinitas.

Aku rindu. Rindu bermain perang2 di sungai tampa sehelai kain (badan dilumuri lumpur di pinggir sungai), rindu lompat dari atas pohon terjun ke sungai. Rindu bermain kelereng dengan teman-teman. Rindu gelak tawa teman-teman saat bermain sallo (bahasa bugis). Rindu bermain karet, Rindu bermain rumah-rumahan tanah, dengan lidi sebagai orang dipelataran depan rumah. Rindu menaiki pohon mangga, lalu becerita di atas ketinggian pohon mangga bersama teman-teman. Rindu bermain bola yg dibuat dari pohon pisang, dengan jeruk.

Saat kecil aku tak kenal gadget, Android, atau apalah itu jenis telepon pintar lainnya. Aku tak kenal game online, aku tak kenal game dalam gadget. Tapi masa kecilku menyenangkan, tak ada hari yang diisi tanpa gelak tawa. Bahagia saat kecil itu sederhana. Yah, sederhana sangat sederhana. Sesederhana menikmati tunu utti, tunu baka, tunu lame (bhs bugis) dll. Sesederhana bermain di pelataran rumah. Sesederhana menang dalam permainan.

Masa kecil ? Masa di mana bermain adalah rutinitas. Masa di mana tiada hari tanpa tawa. Masa di mana tak ada yang namanya sedih berkepanjangan. Jika menangispun hanya sesaat, beberapa waktu setelahnya kembali riang.

Pada tanggal 16 Juni 2018, aku kembali kesini… masih ada rumah2 tempat main-main saya waktu itu. Rumah2 itu menjadi salah satu saksi tempat bermain petak umpet. Pematang sawah itu menjadi bukti bekas kakiku ketika berlomba lari dengan teman-temanku.

Menelusuri Jembatan Layang Maros menuju Bone Pertamakali

Pattunuang Asu, (12 Juni 2018) patut bersyukur karena salah satu nikmat Allah melalui program pemerintah membuat jembatan layang yang mempersingkat perjalanan dari 8 tikungan tajam menjadi satu belokan saja. Pembangunan ini sebagai solusi pemerintah untuk mengatasi kemacetan akibat antri di jalan terutama pada hari raya.

Pada tanggal 12 Juni 2018, pertama kali saya melewati jembatan ini, subehanallah… orang tua saya tidak muntah lagi, karena selalu bertanya ” mana jalanan belok?”. Rupanya yg membuat muntah beliau yaitu jalanan belok2. Karena kalau mobil tikungan tajam, perutnya juga ikut berputar, lama kelamaan … “muntah”. Sekarang, beliau bertanya terus, manami tikungan, jawabku : “tidak ada lagi”, sudah diluruskan pemerintah.

Kronologis Arung Mangkau di Bone

Kehadiran To Manurung (orang yang tidak diketahui asal usulnya atau bukan keturunan dari beberapa Matoa yang ada di Bone) sebagai sosok dengan berbagai kelebihan yang pada saat itu sangat bertepatan pada saat titik klimaks setiap kelompok yang bertikai untuk berhenti saling bertempur. Kehadiran To Manurung yang dikisahkan dengan begitu dramatis dalam lontara’ (Mattulada,40;1998) turut mendukung kondisi yang “kebetulan” ini. Pada akhirnya Matoa/Ulu Anang (pemimpin kelompok) dengan To Manurung membuat kesepakatan bersama atau perjanjian untuk bersama-sama menata suatu masyarakat dengan suatu hukum atau panggadereng dalam wilayah teritorial tertentu. Salah satu isi perjanjian yang penting adalah mengangkat To Manurung sebagai pemimpin tertinggi dan ditaati bersama. Pada tahap ini maka pactum subjectionis telah terealisasi dalam Masyarakat Bugis waktu itu.

Perjanjian antara To Manurung dan Matoa/Ulu Anang termaktub dalam lontara’ attoriolonna to-Bone sebagai berikut (Mattulada,41;1998):
To Manurung :”Teddua nawa-nawako, Temmabbaleccokko “
(“Tidak engkau berdua hati ?, tidakkah engkau akan ingkar?”)
Matoa Ujung (Mewakili Matoa/Ulu Anang lain): “Angikko ki raukkaju. Riao’ miri’ ri-akkeng. Matappalireng. Elo’nu ri-kkeng, Adammu kua. Mattampakko kilao, Millauko kiabbere. Molikko kisawe. Mnau’ni anammeng, pattarommeng. Rekkua muteaiwi,Ki-teai toi-sa. Ia kita ampirikkeng temmakare’. Dongirikeng, temmatippe. Musalipuri’kkeng Temmacekke.”
(Anginlah engkau, kami daun kayu. Kemana engkau menghembus ke sana kami terbawa. Kehendakmu kepada kami, titahmu yang jadi. Engkau menyeru, kami pergi. Engkau meminta, kami memberi. Engkau memanggil, kami menyahut. Walaupun anak kami dan isteri kami, apabila engkau tak menyukainya, kami pun tak menyukainya. Akan tetapi, tuntunlah kami menuju kemakmuran. Engkau menyelimuti kami agar kami tidak kedinginan”)
Perjanjian di atas selanjutnya senantiasa dilafalkan sebagai sumpah oleh calon raja pada saat akan dilantik menjadi raja baru atau pemimpin baru.

“……….Maelokkeng riamaseang tamaraddekna mai ri tana, ajakna ki mallajang, tudanni mai mangkaukiwi atatta. Naelokmu kua, passuruammu ripogauk, mudongiri temmatippakeng, musalipuri temmadingikkeng, muwessé temmatippakeng, namau anakmeng na pattoromeng muteawi, ikkeng teai to “

(“… Kami ingin dikasihani Tuan, menetaplah di sini di negeri Tuanku, janganlah lagi pergi (lenyap), duduklah di sini memerintah kami Tuanku. Kehendakmulah yang menentukan, perintahmu kami lakukan. (tetapi) Engkau jaga kami dari gangguan burung pipit, (Engkau) selimuti kami agar kami tidak kedinginan, Engkau ikat kami bagai seonggok padi yang tak hampa, walaupun anak kami dan atau isteri kami bila Engkau tidak menyukainya, kami pun juga tidak menginginkannya”)
Setelah berdirinya kerajaan atau negara sebagaimana hasil kesepakatan antara To Manurung dan Matoa/Ulu Anang selanjutnya dibentuklah struktur kenegaraan yang akan menjalankan sistem administrasi negara.

Di Kerajaan Bone memiliki sistem pemerintahan yang konfederasi. Jabatan tertinggi atau pemimpin kerajaan adalah Arung Mangkau (Raja yang berdaulat). Dalam proses pengambilan kebijakan dibantu oleh sebuah dewan yang anggap sebagai wakil rakyat yang berjumlah tujuh orang, makanya disebut Arung Pitu’ atau Matoa-Pitué. Ketujuh anggota Dewan Matoa-Pitué selain menjadi anggota dewan pemerintahan Kawérrang Tana Bone juga tetap menjalankan pemerintahan atas wanua asalnya secara otonom serta mengkordinasikan wanua-wanua lain yang tergabung padanya. Setiap wanua yang merupakan angggota konfederasi Kerajaan Bone dipimpin oleh Arung yang memiliki organisasi dan hukum sendiri. Sistem konfederasi ini berlaku hingga Raja Bone ke-9 yang selanjutnya berubah menjadi sistem sentralisasi kekuasaan yang ditandai dengan kelengkapan kekuasaan pusat yang lebih besar dan lebih kuat. Matoa wanua tidak lagi merangkap jabatan di matoa-pitué. Dewan matoa-pitué berperan sepenuhnya sebagai pejabat kekuasaan Pusat Tana Bone yang selanjutnya dirobah menjadi (Dewan) Ade’ Pitué yang merupakan Dewan Menteri Tana Bone.Selanjutnya di sebut pampawa ade’ atau pakatenni ade’ yang berfungsi sebagai kekuasaan eksekutif dan penyambung lidah rakyat kepada raja. Pada saat Raja Bone ke-10 We Tenrituppu ri Sidenreng struktur pemerintahan dirubah dengan diangkatnya To-marilaleng yang berfungsi sebagai perdana menteri yang juga mengkordinir Ade Pitué.