Mengenang Masa Kecilku

Masa kecilku adalah masa di mana dapat tertawa lepas. Menari-menari, merentangkan tangan, tertawa tanpa beban. Masa kecilku, dipanggil LIHIN (Shoalihin), tetapi mendaftar sekolah dengan nama Sudaryanto dengan panggilan Anto.

Bicara soal masa kecil kita pasti memiliki cerita sendiri-sendiri, tapi yang pasti masa kecil adalah masa di mana kita dapat bermain sesuka kita, tak memiliki beban berarti.

Masa kecilku adalah masa dimana aku, kamu, kita semua tak mengenal malu. Masa dimana kita menjadi makhluk mungil, polos yang tak banyak tahu. Kejujuran identik denggan anak-anak, dengan masa kecil. Karena memang begitulah anak-anak, begitulah anak kecil. Anak kecil makhluk polos yang berkata apa adanya. Ketika kecil hari-hari hanya di isi dengan: tidur, bangun tidur, sarapan, sekolah, pulang sekolah, main, mandi, lalu belajar saat malam. Yang ada dalam benak kala itu hanya belajar, dan bermain. Betapa aku rindu masa itu, andai waktu bisa diputar.

Tak lupa kala sore tiba adalah saat di mana pergi mengaji bersama teman-teman, saling sampar-menyampar satu sama lainnya. Lalu pergi bersama menuju rumah sang guru ngaji. Tahu tidak jaraknya, kurang lebih 1 km dari tempat tinggal ku yg waktu itu belum ada lampu jalan, tetapi jalanan kami terangi dengan lampu bambu kami pegangi masing2.

Sungguh, aku rindu. Rindu saat di mana aku dapat tertawa lepas, tanpa beban. Rindu saat di mana aku dapat dengan tenangnya menyantap makanan. Rindu saat di mana aku dapat bermain sepuas hati, tanpa terbebani.

Aku rindu. Rindu masa di mana tak kenal kata privasi. Rindu masa di mana tak kenal beban. Rindu masa di mana tak kenal gengsi. Rindu masa di mana bermain adalah rutinitas.

Aku rindu. Rindu bermain perang2 di sungai tampa sehelai kain (badan dilumuri lumpur di pinggir sungai), rindu lompat dari atas pohon terjun ke sungai. Rindu bermain kelereng dengan teman-teman. Rindu gelak tawa teman-teman saat bermain sallo (bahasa bugus). Rindu bermain karet, Rindu bermain rumah-rumahan tanah, dengan lidi sebagai orang dipelataran depan rumah. Rindu menaiki pohon mangga, lalu becerita di atas ketinggian pohon mangga bersama teman-teman. Rindu bermain bola yg dibuat dari pohon pisang, dengan jeruk.

Saat kecil aku tak kenal gadget, Android, atau apalah itu jenis telepon pintar lainnya. Aku tak kenal game online, aku tak kenal game dalam gadget. Tapi masa kecilku menyenangkan, tak ada hari yang diisi tanpa gelak tawa. Bahagia saat kecil itu sederhana. Yah, sederhana sangat sederhana. Sesederhana menikmati es lilin. Sesederhana bermain di pelataran rumah. Sesederhana menang dalam permainan.

Masa kecil ? Masa di mana bermain adalah rutinitas. Masa di mana tiada hari tanpa tawa. Masa di mana tak ada yang namanya sedih berkepanjangan. Jika menangispun hanya sesaat, beberapa waktu setelahnya kembali riang.

Pada tanggal 16 Juni 2018, aku kembali kesini… masih ada rumah2 tempat main-main saya waktu itu. Rumah2 itu menjadi salah satu saksi tempat bermain petak umpet. Pematang sawah itu menjadi bukti bekas kakiku ketika berlomba lari dengan teman-temanku.

Iklan

Menelusuri Jembatan Layang Maros menuju Bone Pertamakali

Pattunuang Asu, (12 Juni 2018) patut bersyukur karena salah satu nikmat Allah melalui program pemerintah membuat jembatan layang yang mempersingkat perjalanan dari 8 tikungan tajam menjadi satu belokan saja. Pembangunan ini sebagai solusi pemerintah untuk mengatasi kemacetan akibat antri di jalan terutama pada hari raya.

Pada tanggal 12 Juni 2018, pertama kali saya melewati jembatan ini, subehanallah… orang tua saya tidak muntah lagi, karena selalu bertanya ” mana jalanan belok?”. Rupanya yg membuat muntah beliau yaitu jalanan belok2. Karena kalau mobil tikungan tajam, perutnya juga ikut berputar, lama kelamaan … “muntah”. Sekarang, beliau bertanya terus, manami tikungan, jawabku : “tidak ada lagi”, sudah diluruskan pemerintah.

Kronologis Arung Mangkau di Bone

Kehadiran To Manurung (orang yang tidak diketahui asal usulnya atau bukan keturunan dari beberapa Matoa yang ada di Bone) sebagai sosok dengan berbagai kelebihan yang pada saat itu sangat bertepatan pada saat titik klimaks setiap kelompok yang bertikai untuk berhenti saling bertempur. Kehadiran To Manurung yang dikisahkan dengan begitu dramatis dalam lontara’ (Mattulada,40;1998) turut mendukung kondisi yang “kebetulan” ini. Pada akhirnya Matoa/Ulu Anang (pemimpin kelompok) dengan To Manurung membuat kesepakatan bersama atau perjanjian untuk bersama-sama menata suatu masyarakat dengan suatu hukum atau panggadereng dalam wilayah teritorial tertentu. Salah satu isi perjanjian yang penting adalah mengangkat To Manurung sebagai pemimpin tertinggi dan ditaati bersama. Pada tahap ini maka pactum subjectionis telah terealisasi dalam Masyarakat Bugis waktu itu.

Perjanjian antara To Manurung dan Matoa/Ulu Anang termaktub dalam lontara’ attoriolonna to-Bone sebagai berikut (Mattulada,41;1998):
To Manurung :”Teddua nawa-nawako, Temmabbaleccokko “
(“Tidak engkau berdua hati ?, tidakkah engkau akan ingkar?”)
Matoa Ujung (Mewakili Matoa/Ulu Anang lain): “Angikko ki raukkaju. Riao’ miri’ ri-akkeng. Matappalireng. Elo’nu ri-kkeng, Adammu kua. Mattampakko kilao, Millauko kiabbere. Molikko kisawe. Mnau’ni anammeng, pattarommeng. Rekkua muteaiwi,Ki-teai toi-sa. Ia kita ampirikkeng temmakare’. Dongirikeng, temmatippe. Musalipuri’kkeng Temmacekke.”
(Anginlah engkau, kami daun kayu. Kemana engkau menghembus ke sana kami terbawa. Kehendakmu kepada kami, titahmu yang jadi. Engkau menyeru, kami pergi. Engkau meminta, kami memberi. Engkau memanggil, kami menyahut. Walaupun anak kami dan isteri kami, apabila engkau tak menyukainya, kami pun tak menyukainya. Akan tetapi, tuntunlah kami menuju kemakmuran. Engkau menyelimuti kami agar kami tidak kedinginan”)
Perjanjian di atas selanjutnya senantiasa dilafalkan sebagai sumpah oleh calon raja pada saat akan dilantik menjadi raja baru atau pemimpin baru.

“……….Maelokkeng riamaseang tamaraddekna mai ri tana, ajakna ki mallajang, tudanni mai mangkaukiwi atatta. Naelokmu kua, passuruammu ripogauk, mudongiri temmatippakeng, musalipuri temmadingikkeng, muwessé temmatippakeng, namau anakmeng na pattoromeng muteawi, ikkeng teai to “

(“… Kami ingin dikasihani Tuan, menetaplah di sini di negeri Tuanku, janganlah lagi pergi (lenyap), duduklah di sini memerintah kami Tuanku. Kehendakmulah yang menentukan, perintahmu kami lakukan. (tetapi) Engkau jaga kami dari gangguan burung pipit, (Engkau) selimuti kami agar kami tidak kedinginan, Engkau ikat kami bagai seonggok padi yang tak hampa, walaupun anak kami dan atau isteri kami bila Engkau tidak menyukainya, kami pun juga tidak menginginkannya”)
Setelah berdirinya kerajaan atau negara sebagaimana hasil kesepakatan antara To Manurung dan Matoa/Ulu Anang selanjutnya dibentuklah struktur kenegaraan yang akan menjalankan sistem administrasi negara.

Di Kerajaan Bone memiliki sistem pemerintahan yang konfederasi. Jabatan tertinggi atau pemimpin kerajaan adalah Arung Mangkau (Raja yang berdaulat). Dalam proses pengambilan kebijakan dibantu oleh sebuah dewan yang anggap sebagai wakil rakyat yang berjumlah tujuh orang, makanya disebut Arung Pitu’ atau Matoa-Pitué. Ketujuh anggota Dewan Matoa-Pitué selain menjadi anggota dewan pemerintahan Kawérrang Tana Bone juga tetap menjalankan pemerintahan atas wanua asalnya secara otonom serta mengkordinasikan wanua-wanua lain yang tergabung padanya. Setiap wanua yang merupakan angggota konfederasi Kerajaan Bone dipimpin oleh Arung yang memiliki organisasi dan hukum sendiri. Sistem konfederasi ini berlaku hingga Raja Bone ke-9 yang selanjutnya berubah menjadi sistem sentralisasi kekuasaan yang ditandai dengan kelengkapan kekuasaan pusat yang lebih besar dan lebih kuat. Matoa wanua tidak lagi merangkap jabatan di matoa-pitué. Dewan matoa-pitué berperan sepenuhnya sebagai pejabat kekuasaan Pusat Tana Bone yang selanjutnya dirobah menjadi (Dewan) Ade’ Pitué yang merupakan Dewan Menteri Tana Bone.Selanjutnya di sebut pampawa ade’ atau pakatenni ade’ yang berfungsi sebagai kekuasaan eksekutif dan penyambung lidah rakyat kepada raja. Pada saat Raja Bone ke-10 We Tenrituppu ri Sidenreng struktur pemerintahan dirubah dengan diangkatnya To-marilaleng yang berfungsi sebagai perdana menteri yang juga mengkordinir Ade Pitué.

Pengguna narkoba dijamin UU supaya direhabilitasi

Sekali mencoba narkoba, seseorang akan terbelenggu seumur hidup. Sekali ketagihan, efek kejiwaan tidak hilang seumur hidup. Narkoba hanya menawarkan solusi sementara, tetapi menciptakan masalah lain yang lebih besar. Narkoba merusak tubuh dan jiwa. Jadi, jalan terbaik adalah tidak mencoba sama sekali. Atau jika terlanjur menggunakan narkoba, maka segera meminta pertolongan untuk direhabilitasi ke tempat yang telah ditunjuk oleh pemerintah. Tempat rehabilitasi yang resmi itu ada yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial, ada yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Ada yang tidak ditetapkan oleh Kementerian Sosial maupun Kesehatan, tetapi bermitra dengan Badan Narkotika Nasional (BNN). Institusi yang bermitra dengan BNNP Sulsel yaitu seluruh RSUD, Puskesmas Makkasau, Andalas, Tamalate, Maccini Sawah (Kota Makassar); Puskesmas Watampone, Puskesmas Pangkajene Sidrap. Sedangkan Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat (LRKM), lebih rinci klik LRKM pada halaman webblog ini http://bnnpsulsel73.wordpress.com

Cegah coba2 narkoba dan rehabilitasi penggunanya

Lapri Bone 13 Mei 2018, alumni SMPN Lapri melaksanakan Bakti Sosial. Beberapa kegiatan nya antara lain, sunat gratis, donor darah, pengobatan gratis, sosialisasi penanggulangan penyalahgunaan narkoba, serta penyuluhan gigi dan mulut.

Salah satu kegiatan yang saya fasilitasi yaitu mensosialisasi kan “pencegahan coba narkoba dan rehabilitasi penggunanya” di depan perwakilan pelajar dan orang tua.

Hal ini sangat penting dilakukan pada generasi muda yang belum terjerumus, supaya menjadi imun dari tawaran/ ajakan / iming2 bandar untuk mencoba narkoba. Merekapun dapat menjadi penggiat anti narkoba di mana pun nanti beraktifitas.

Mereka juga dapat memahami bahwa bagi masyarakat yg sudah terlanjur menggunakan narkoba mendapat jaminan UU untuk mengikuti program rehabilitasi supaya dapat pulih dari ketergantungan. Pengguna narkoba supaya laporkan diri ke Puskesmas, RS atau kah ke BNN P/K.

Selfi dapat mengobati kelelahan

Tanatoraja, (8-10) Mei 2018 bersama tim Rehabilitasi Bnnp Sulsel melakukan perjalanan dinas yang melelahkan dari Makassar menuju Tator dengan waktu 8 jam. Perjalanan ini menelusuri Maros menuju Pangkep, karena perut lapar maka sepakat singgah makan. Kemudian melanjutkan ke Barru menuju Parepare, memotong ke Pinrang menelusuri daerah persawahan untuk menuju Kab. Enrekang, lalu kemudian sampailah di Kab. Tana Toraja yang menjadi tujuan perjalanan tim kami. Perjalanan dari Makassar ke Tanatoraja memperoleh waktu istirahat ketika singgah makan dan singgah di Masjid pada waktu shalat.

Sampai di Tator, sebelum beristirahat di hotel Manggasa, kami makan malam untuk mengisi energi yg hilang karena kelelahan dalam perjalanan 8 jam, kemudian beristirahat yg berkualitas karena dibarengi dengan udara Tator yg sangat dingin.

Keesokan harinya, pegawai hotel menghidangkan kopi Toraja dgn roti bakar. Uuuh, maknyusss, siapa yg tidak kenal kopi Toraja. Kemudian menuju ke kantor Bupati Tana Toraja untuk memberikan bimbingan teknis ke petugas/Kepala Puskesmas tentang pelaksanaan skrining dan intervensi lapangan guna menemukan pengguna Narkoba di Lapangan. Bersama tim memberikan bimbingan teknis kepada 21 petugas puskesmas yang diikuti kurang lebih 100 orang, dari jam 10.00 sampai jam 16.00. Setelah itu, tim bergerak ke Bnnk untuk mengikuti berbagai kegiatan Bnnk yg dihadiri oleh Ka Bnnp Sulsel, kemudian makan bersama di RM Tepi Sawah.

Kira2 jam 23.00, tim menuju ke kamar masing2 (pindah hotel ke Rantepao), karena mencari tempat strategis yaitu Ka Bnnp Sulsel mau ke bandara Bua Luwu, sedang kan tim kami akan “SELFI” di LOLAI karena kata tim untuk mengobati kelelahan, maka selfi di temlat yg disenangi.

Pagi2 dalam situasi masih gelap, tim menggunakan pemandu Mr. Google menuju puncak LOLAI. Sebelum sampai di Lolai rupanya ada tempat baru yaitu TO’TOMBI. Tim mengambil posisi masing2 dengan gayanya untuk mendokumentasikan gambar wajahnya di bumi atas awan. Setelah puas di TO’TOMBI, tim melanjutkan perjalanan ke puncak Lolai, sayangnya tim tidak beruntung karena tidak ada awan, tetapi tim tetap selfi. Untuk sudah menilmati bumi di atas awan di TO’ TOMBI.

Setelah itu, tim bergerak menuju pekuburan adat, selfi pun merupakan rangkaian yg paling banyak. Baru kemudian kami melakukan perjalanan panjang menuju Makassar, suara2 dengkur yg bermacam2 kedengaran di atas mobil, sy tersenyum melihat tim terlelap sambil mendengkur, kecuali Ayu yg tdk pernah tidur sepanjang perjalanan. Tiba di Makassar jam 22.00 malam, istirahat dan pagi nya tetap bergegas untuk menuju kantor. Semoga perjalanan ini bermanfaat untuk menyelamatkan penyalah guna narkoba di Tana Toraja, amin.

Awal reuni alumni SMPUL84/SMALAPRI87

Reuni alumni SMP Ujung Lamuru 1984/ SMA Lappariaja Kab Bone rutin dilakukan setiap bulan yang dirangkaikan dengan arisan sejak 21 bulan yang lalu. Awalnya, pada tahun 2015, aku ditelpon Bambang Yusuf menyampaikan kepada saya bahwa ada beberapa teman SMP dan SMA domisili di Makassar. Kau salah itu kalau tidak pernah ketemu dengan mereka, kata BeYe itu.

Karena itu, saya tersadar bahwa ternyata saya tidak sendirian di Makassar. BeYe membeikan nomor HP Sule, Bidin dan Mia, saya hubungi mereka, rupanya ada group BB yang sudah dibuat, tapi baru beranggotakan 3 orang, yaitu Sule, Mia, dan BeYe.

Saya telpon mereka berdua, senang bisa komunikasi dengan mereka. Saya minta no hp teman yang ada sama mereka, setelah itu saya telpon satu-satu, minta PIN BB nya kemudian Sule menggabungkannya ke dalam group BB.

Komunikasi semakin ramai, sehingga muncul ide untuk ajakan kumpul melalui BB di D’Cost Mall Panakkukang.

Kami ketemu berempat (saya, Mia, Firman dan A. Mulida). Begitulah awalnya, jika lama tdk ketemu, selalu saja ada yang ngajak ketemuan, ya ketemu lagi dan jumlah teman dari waktu ke waktu bertambah jumlahnya. Jika ada kawan dari luar Kota Makassar ke Makassar, mesti kami kumpul2. Pernah kumpul di Kafe Gigi, Pondok Desa, Bakso Tembak, bendungan Sanrego dan D’Cost beberapa kali. Ashar Bustamin lah yg paling sering ngajak ketemuan waktu itu, sangat lincah pada waktu itu, sebentar ada lagi di Makassar, ada lagi di Bulukumba, di Malino (pokok nya keliling). Sehingga pada suatu waktu Ashar ke Mamuju, tiba2 menghilang dari silaturrahmi, hilang dari komunikasi BB, ditelpon tidak diangkat, dan lama sekali menghilangnya sehingga kawan2 bercanda bahwa Ashar itu disembunyikan “setan”.

Arisan alumni itu ada karena pada suatu saat, muncul ide Mia dkk lainnya untuk membentuk arisan alumni supaya lebih rutin silaturrahminya, dan disepakatilah Tya sebagai ketua dan Mia sebagai bendahara (lewat group BB). Kalau tidak salah, arisan pertama dimulai di Pondok Cabe Jl. Perintis Kemerdekaan (rekomendasi Tya sebagai Ketua).

Tidak lama kemudian, muncullah WA… satu per satu kawan2 diangkut nyeberang ke group WA, group BB hilang ditelan waktu.

Kebanyakan orang pasti sudah tidak asing dengan budaya satu ini. Apalagi memang sifat orang Indonesia yang suka berkumpul. Bukan hanya bernostalgia dengan teman lama, dengan adanya acara reuni baik reuni sekolah, perguruan tinggi atau reuni lainnya ternyata ada banyak manfaat yang bisa diambil. Beberapa manfaat temu kangen dalam acara reunian ini diantaranya:

1. Kembali merasakan masa sekolah

Sebagian orang menganggap ajang reuni sebagai hal yang sangat penting karena di reunianlah kita dapat kembali merasakan masa-masa sekolah yang penuh kebersamaan dan kebahagiaan bersama teman-teman. Masa-masa seperti ini hanya ada ketika kita sekolah, namun dengan reuni setidaknya kita bisa merasakan kembali hal-hal seperti itu walau sedikit. Mengingat hal-hal yang menarik, nama-nama panggilan yang kita dapat di masa sekolahpun akhirnya dipakai lagi ketika reunian. Memperbincangkan hal manis yang pernah kita lalui ini merupakan salah satu terapi hati yang efektif

2. Dipercaya dapat membuat umur panjang

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kumpul-kumpul bersama sahabat yang akan menimbulkan rasa kegembiraan dapat membuat umur kita lebih panjang. Dalam penelitian itu membuktikan bahwa seseorang yang banyak dikelilingi oleh teman dan saudara kemungkinan meningggal lebih cepatnya berkurang 50 persen. Orang-orang yang memiliki kehidupan sosial seperti ini rata-rata hidupnya bertambah hingga 3,7 tahun. Penelitian di Brigham Young University dan University of North Carolina (UCLA), Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa teman dan keluarga yang selalu mendukung dapat membuat seseorang lebih terasa mudah dalam menghadapi masalah sehingga kebahagiaan selalu tercipta dan membantu seseorang mengurangi beban masalahnya.

3. Menghilangkan stres dan depresi berat

Dukungan emosi yang didapatkan dari teman dan keluarga mampu meringankan beban dan masalah seseorang. Manfaat reuni alumni ini biasa menjadi tempat mencurahkan berbagai masalah sehingga mampu membuat seseorang merasa lebih bahagia. Beban dan masalah yang awalnya ia tanggung sendiri hingga membuat ia stres dan depresipun akhirnya berkurang bahkan hilang dan berubah menjadi sebuah keceriaan. Seorang professor medis Teresa Ellen juga menjelaskan, dukungan dan hubungan sosial seseorang mampu membuat tekanan darah, gula darah, metabolisme, dan stress hormonnya lebih stabil.

4. Memperkuat jaringan koneksi pertemanan

Untuk beberapa orang yang menggeluti dunia bisnis, ajang reuni menjadi hal yang sangat bermanfaat karena disitu ia bisa memperkenalkan dan mengajak teman-temannya bergabung atau menikmati hasil bisnis yang ia geluti.

5. Menjalin tali silatuhmi dan saling bertukar informasi

Bayangkan jika anda bereuni dengan teman-teman masa SMA, SMP atau bahkan SD yang sudah beberapa tahun tidak bertemu. Tentu hal ini sangat menyenangkan karena tali silatuhmi akan terjalin kembali dan merekatkan persahabatan dengan teman-teman yang mungkin sulit ditemui jika bukan dalam ajang reuni. Selain itu, dengan menghadiri acara reuni alumni kita akan mendapat informasi lebih banyak dari teman-teman kita.

6. Mengembalikan eksistensi individu

Bertahun-tahun yang sudah berlalu mungkin telah mengubah kehidupan dan citra seseorang. Saat seseorang menjadi idola di masa sekolahnya bisa jadi sekarang malah bernasib sebaliknya. Adapula yang ketika sekolah prestasinya biasa-biasa aja malah menjadi orang sukses. Hal-hal seperti inilah yang akan menjadi perbincangan hangat saat acara reuni. Bagi mereka yang biasa-biasa aja ketika sekolah dan saat ini sudah menjadi sukses, ajang reuni menjadi tempat untuk eksistensi dirinya.

7. Menjadi ajang untuk bakti sosial

Ajang reuni banyak dimanfaatkan oleh para anggotanya untuk melakukan hal yang positif, seperti penggalangan dana untuk amal, melaksanakan seminar-seminar, dan lain-lain.

8. Membahagiakan keluarga, teman, dan guru

Dalam sebuah acara reuni biasanya tidak lupa mengajak guru-guru mereka dahulu. Selain itu, bagi mereka yang telah berkeluarga juga mengajak anak, dan pasangannya. Untuk seorang guru, ajakan bergabung dalam acara reuni tentunya akan membuat guru merasa terhormat karena masih diingat oleh siswa-siswanya. Untuk anak atau pasangan seseorang yang diajak pastinya akan menimbulkan kebahagiaan.

Tetapi tidak hanya hal positif yang bisa didapatkan dalam ajang reuni alumni. Ada banyak hal negatif juga bisa2 saja dijumpai, tetapi semoga hal ini tidak terjadi pada sahabat kami. Reuni biasanya juga dijadikan sebagai ajang CLBK (Cinta Lama bersemi Kembali) bagi mereka yang telah berumah tangga sehingga dapat merusak rumah tangga tersebut, dan lain-lain.

Paket hemat “sehat” yaitu olahraga rutin 30 menit per hari

Kesehatan itu sangat mahal jika sudah sakit baru menyadari pentingnya menjaga kesehatan. Oleh karena itu, ada paket hemat sehat, yaitu “olah raga rutin 30″ per hari.

Kami mencoba merubah pikiran (yaitu, kalau mau sehat harus rajin olah raga), untuk berprilaku hidup baru dan kemudian dijadikan kebiasaan.

Untuk membiasakan diri, maka buat jadwal, misalnya hari Senin- Kamis (jogging), Jumat (Sepeda sehat anti narkoba), Sabtu (jogging), Ahad (senam di boulevard)

Ayo, mari biasakan olahraga rutin min 30” per hari.

Korban Arisan Ibu-ibu

Galesong, 28 April 2018 mengantar isteri tercinta untuk mengikuti arisan di Wisata Pantai Galesong Kab Takalar.

Karena tdk terlibat pada acara arusan, maka keliling2 saja menikmati pantai, lihat orang berenang sambil WA.

Begitulah kalau acara ibu2 oasti identik dengan waktu lama. Salah satu bentuk pengorbanan suami yaitu menemani istri kemana dia mau pergi (menyenangkan).

Menungguuu sampai acara ibu2 selesai. Insya Allah, menyenangkan isteri bernilai ibadah, amiin.

Permohonan Mengabdi Kembali ke Institusi Kesehatan yang Gagal

Semenjak pertama mengabdi pada BNNP Sulsel Agustus 2011, saya ditugasi sebagai Kasubag Perencanaan. Pembaca pasti tahu, orang yg bekerja di perencanaan harus bergelut dengan data, untuk dinalisis, cari solusi alternatif, proposal, usulan anggaran, evaluasi. Begitu terus berputar, sehingga pada tahun 2013, kami berfikir ingin banyak membaca kemudian implementasikan ke orang lain. Saya pikir dengan dengan beralih menjadi dosen itu memperoleh keinginan tersebut. Maka pindah ke Poltekkes Makassar lah pilihannya, belum lagi setiap ketemu dosen waktu sekolah dulu, beliau selalu mendedak, mana permohonannya, “mumpung saya masih aktif, paling tidak bisa merekomendasikan atas kemampuan yg kau miliki”. Akhirnya betul, usaha itu kami mulai dengan mengajukan permohonan ke Kepala Bnnp Sulsel untuk pindah kerja ke Poltekkes Makassar. Kepala BNNP Sulsel waktu itu (Kombes Pol Drs. Richard M. Nainggolan,MBA) bertanya kepada saya, Pak Anto disana dapat jabatan apa ? Lalu saya jawab, saya jadi ataf biasa Pak, karena syarat untuk menjadi fungsional dosen harus menjadi staf biasa selama dua tahun kemudian diusulkan menjadi dosen kalaupun memenuhi syarat. Beliau bilang, kalau dapat jabatan lebih tinggi dari sini, sekarang juga saya tanda tangan permohonan nya. Cobalah dipertimbangkan kembali matang-matang. Banyak nasehat dari beliau disampaikan ke saya membuat saya mengurungkan niat untuk kembali membicarakan rencana pindah tersebut. Sampai pada tahun berikutnya, ada aturan bahwa pengangkatan dosen monimal berumur 45 th, sedang waktu itu saya sdh berumur 44 th. Kalau pindah, menjadi staf dua tahun, berarti 46 th baru bisa diusulkan menjadi fungsioanl dosen (sdh lewat umur). Hitung berhitung, Kepala juga tdk pernah menanyakan lagi, sy juga sudah pasrah mengabdikan diri di BNNP saja karena sdh terbentur dgn aturan umur minimal.

Refleksi Perpindahan dari Institusi Kesehatan ke BNN Prov Sulsel

Pada waktu itu, saya ditelp oleh drg. Rosmiati,M.Kes (Kabag TU Biro Napza Setda Prov Sulsel). Beliau menyampaikan bahwa atasan saya mau bicara, maka saya sapa atasan tersebut, dan rupanya beliau menawari saya untuk membantunya di perencanaan pada Biro Napza. Saya menjawab, “hari ini saya belum bisa memberikan kepastian karena sy harus minta petunjuk sama Allah dan harus diskusikan dengan isteri. Beliau menjawab, ok besok sy tunggu di Biro Napza Pak. Keesokan harinya, saya datang ke Biro Napza, saya kaget karena rupanya yg telpon kemarin itu adalah dr. Dwi Joko, MPH (bekas Wakadinkes Prov Sulsel), sebaliknya beliau kaget juga dan mengatakan “ternyata kau” saya minta kau bantu saya di Biro Napza”, dengan pasrah sy menerima krn beliau yg meminta (tdk mampu menolak). Setelah itu, maka sy bertugas di Biro Napza per 10 Januari 2011. Tetapi beberapa bulan kemudian, dr. Joko pindah menjadi Dir PLRIP BNN RI. Lalu sy bercanda ke beliau, bgmn ini dok… masa sy ditarik ke Biro baru dokter pindah. Apa kata beliau ? Ah sudahlah, pindah saja ke BNNP Sulsel. Dengan kelincahan kawan an. Jamaluddin (kawan di Biro Napza) mengurus semuanya, tiba2 muncul surat tugas bersama enam orang yg dipekerjakan pada Bnnp Sulsel per Agustus 2011. Suka duka bekerja pada organisasi baru, betul2 start dari nol. Banyak rapat, diskusi, koordinasi ke institusi lain. Pada awal tahun, setengah tahun bekerja tanpa didukung anggaran DIPA. Bahkan kantor pun masih numpang di CCC Makassar. Tetapi kami semua semangat, terutama Kepala Bnnp Sulsel waktu itu, yaitu Kombes Pol Drs. Richard M Nainggolan, MBA

Klien RD Triasa Sulsel ambil bagian pada pameran Dekranasda Sulsel 2017

Makassar (17-4-2017), Dekranasda menyelenggarakan pameran Gelar Kerajinan Nasional Daerah & Produk Ekonomi Kreatif Nusantara 2017 di Hotel Sheraton Makassar. Pameran ini dirangkaikan dengan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sulsel. 

Pada pameran tersebut, klien pascarehabilitasi RD Triasa diundang untuk ambil bagian dan disiapkan satu stand khusus untuk memajang hasil karya para mantan penyalah guna narkoba berupa menara, miniatur rumah adat, bingkai foto, dan tempat tissu yg terbuat dari koran; lampu tidur dari sendok plastik bekas, lampu hias dari botol bekas, gambar wajah di atas kaca, lampu hias dari pipa paralon, lampu lampion, kembang pot dari potongan-potongan botol aqua dll.